New Zealand, Negeri Seindah Lukisan

25 Feb

Femina Jalan-jalanSelandia Baru dengan alamnya yang berwarna-warni, benar-benar memuaskan hobi traveling dan fotografi saya. Sejak menyaksikan keindahan alam Selandia Baru dalam film The Lord of the Rings, negara ini menjadi salah satu negara yang sangat ingin saya kunjungi. Impian itu akhirnya menjadi kenyataan. Dengan penuh rasa antusias, saya, Evelyn Nuryani, berangkat menuju Negeri Kiwi ini. Terbayang indahnya rumah-rumah mini hobbit di tengah padang rumput yang hijau, gunung-gunung diselimuti salju, serta danau biru luas membentang.
Menjelang Musim Semi
Udara sejuk segera menerpa wajah saya dan teman saya, Dee, begitu menginjakkan kaki di Christchurch. Pertengahan September, di Selandia Baru merupakan masa peralihan dari musim dingin ke musim semi, dengan temperatur berkisar 10-15 derajat Celsius. Sebagian pohon mulai bersemi, begitu pula rumput-rumput hijau yang dihiasi bunga-bunga kecil. Beberapa orang berlari-lari kecil sambil membawa anjing. Rumah-rumah tertata dengan rapi di sepanjang jalan, masing-masing dilengkapi kebun yang luas.
Christchurch merupakan kota kedua terbesar di Selandia Baru sesudah Auckland. Kota ini terkenal karena kebun-kebunnya yang indah, bangunan-bangunan tua, dan Sungai Avon yang berliku-liku melewati pusat kota. Tidak mengherankan, Christchurch dikenal dengan sebutan The Garden City.
Setiap sore, warga setempat ramai berkumpul di lapangan Catedral Square untuk bersantai. Ketika saya ke sana, banyak di antara mereka yang sedang duduk-duduk sambil mengobrol, ada yang bermain catur raksasa yang tersedia di lapangan tersebut, dan sebagian lagi menyaksikan atraksi menarik yang ditampilkan pemusik jalanan. Segerombol burung camar dengan tenang bermain di lapangan dan bercanda riang dengan anak-anak kecil yang memberi remah-remah roti.
Ada tiga sarana transportasi yang tersedia di sana, yakni tram, punting, dan gondola. Tram adalah kereta api mini berdesain unik, salah satu pilihan terbaik untuk membawa turis mengelilingi Christchurch yang mungil. Sedangkan punting merupakan perahu kecil yang dapat membawa kita menyusuri Sungai Avon yang tenang. Menyaksikan induk dan anak-anak bebek bercanda dengan riang di sungai, sungguh menyenangkan. Kami juga menikmati Christchurch dari ketinggian dengan naik gondola. Seru!
Patung Friday di Mackenzie Country
Mount Cook adalah salah satu objek yang wajib dikunjungi. Dikenal juga dengan nama Aoraki, kawasan pegunungan yang puncaknya tertutup salju abadi. Tempat ini menawarkan beragam aktivitas outdoor mengeksplorasi gletser, seperti trekking, tur dengan perahu atau kayak. Namun sayang sekali, begitu kami tiba di Mount Cook, hujan turun dan langit berkabut. Kami hanya dapat memandangi puncaknya dari kejauhan. Akhirnya kami hanya mengunjungi Sir Edmund Hillary Alpine Centre untuk makan siang dan melihat pertunjukan Mount Cook Magic dalam layar 3D. Film berdurasi 15 menit ini menggambarkan legenda Maori tentang peristiwa alam terbentuknya Aoraki, dan mengiringi ekspedisi seorang pendaki menaklukkan Pegunungan Southern Alps.
Kami berhenti sebentar di Danau Tekapo. Kesempatan bagi kami untuk bisa menikmati panorama dan mengambil foto di sekitar danau. Sebuah gereja dibangun tahun 1935, sebagai penghormatan untuk para perintis yang tinggal di kawasan itu, Church of the Good Shepherd. Gereja ini terletak persis di tepi  danau dan jauh dari permukiman penduduk. Dari dalam jendela gereja, saya terpukau menyaksikan pemandangan mengagumkan danau biru kehijauan dan gunung berselimut salju dihiasi langit biru bersih. Benar-benar mirip lukisan dalam bingkai jendela.
Hanya beberapa meter dari gereja, terdapat patung anjing Collie yang terbuat dari tembaga. Patung ini dibuat sebagai penghargaan terhadap Friday, anjing milik James Mackenzie, seorang pencuri ulung yang pada tahun 1855 ‘menculik’ 1.000 domba. Hanya dengan bantuan Friday, James berhasil menjalankan aksinya, menggiring seribuan domba ke kawasan tersebut. Anehnya, karena kisah pencurian yang menghebohkan itu, daerah Mount Cook dan sekitarnya sampai saat ini dikenal dengan sebutan Mackenzie Country.
Kawasan ini terkenal dengan langit yang bersih dan bebas polusi. Malam hari, tengadah ke langit, saya dapat menyaksikan ribuan bintang selatan. Pada waktu-waktu tertentu, konon di sini kita juga dapat melihat fenomena alam seperti aurora dan hujan meteor. Jika ingin melihat lebih jelas, kita dapat menggunakan teleskop di Mount John Observatory.
The Lord of the Rings di Danau Wanaka
Untuk menuju Wanaka, kami memutuskan untuk menyewa mobil agar bisa lebih leluasa mengatur waktu dan rute perjalanan. Berbekal peta dan GPS, kami memulai petualangan. Dee mendapat giliran menyetir pertama kali dan saya berperan sebagai navigator. Jalan-jalan di Selandia Baru cukup lebar dan halus, nyaman untuk berkendara.
Sebagai pintu masuk ke Mount Aspiring National Park, Kota Wanaka terkenal karena aktivitas outdoor-nya, seperti hiking, mountain biking, rafting, kayaking, dan memancing. Danaunya yang luas berwarna biru dan airnya tenang, dikelilingi perbukitan berwarna putih dan kebiru-biruan, bunga-bunga sakura berwarna pink, pohon berdaun kuning dan hamparan rumput hijau sejauh mata memandang, tanpa populasi manusia, membuat kami merasa berada di negeri antah berantah. Di sekitar Danau Wanaka ini, kami dapat menyaksikan latar belakang saat Gandalf terbang menuju Rohan dengan Gwaihir dalam film The Lord of the Rings.
Di tengah udara yang makin dingin, kami menikmati makan siang sup tom yam di salah satu restoran Thai. Keluar dari resto, kami disambut hujan salju yang mulai turun dari langit. Salju yang indah, namun membuat saya sedikit khawatir tentang sisa perjalanan kami nanti.
Menembus Jalanan Bersalju
Dalam perjalanan, kami melewati Lake Hawea dan kembali disuguhi pemandangan menakjubkan.  Gunung diselimuti es dengan latar belakang langit biru, danau, dan daun-daun pepohonan penuh warna. Mendekati puncak Haast Pass, kami mulai ekstra hati-hati. Hujan salju turun makin lebat dan jalanan licin tertutup salju. Beberapa mobil mulai berhenti, tidak berani melanjutkan perjalanan, karena jalan menanjak dan tertutup salju.
Kami memutuskan tetap jalan, namun dengan kecepatan sangat minimal. Untunglah, mobil di depan kami cukup kuat dan mereka memasang rantai pada ban-ban mobil untuk memecah es salju di jalan yang dilewati. Kami berusaha berjalan tepat di jalan yang mereka lalui. Pemandangan hutan tropis di kiri-kanan jalan yang diselimuti salju sangat menawan. Setelah 20 menit melalui perjalanan menegangkan, kami akhirnya tiba di jalanan normal. Ah… lega sekali rasanya.
Bagian tersulit telah berhasil kami lalui. ‘Tinggal’ 140 km lagi untuk sampai di Franz Josef Glacier. Kecepatan mobil mulai ditingkatkan. Kami ingin tiba di sana sebelum hari mulai gelap.
Mendaki Gletser
Franz Josef Glacier (FJG) yang terletak di West Coast adalah gletser yang paling spektakuler di Selandia Baru. Lekukan bongkahan es yang terbentuk dari hasil akumulasi endapan salju yang membatu selama ratusan tahun, menghasilkan masterpiece alam yang luar biasa menakjubkan. Dengan panjang 12 km, dari kejauhan FJG tampak seperti luapan gelombang air sungai berwarna putih.
Bagi kami yang tidak terbiasa mendaki gunung, perjalanan mendaki gletser benar-benar tidak mudah. Baru setengah pendakian, napas saya terengah-engah dan kepala terasa pening. Sepatu khusus yang kuat dan tahan air membuat kaki makin berat melangkah. Setibanya di pertengahan bukit, terlihat bentuk-bentuk gletser yang indah berwarna kebiruan. Udara yang dingin tidak lagi saya rasakan, tergantikan oleh kekaguman menyaksikan ukiran gletser-gletser.
Cuaca berganti sangat cepat dan tidak terprediksi di West Coast. Pada awal pendakian, matahari bersinar terang. Namun, tidak lama sesudah berada di atas, hujan mulai turun. Pemandu menginstruksikan agar kami mulai bergerak turun. Perjalanan turun terasa jauh lebih mudah dibanding mendaki. Katanya, jika beruntung, kami dapat mengamati pergerakan perubahan gletser yang rutin terjadi setiap periode tertentu. Sayangnya, saat itu sama sekali tidak ada perubahan apa pun.
Evelyn Nuryani

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: