Asal Kujamah Saja Jubahnya Aku Akan Sembuh

16 Feb

Aku tidak bisa percaya lagi kasih tulus seorang pria. Setiap kali seorang pria mendekatiku dan mencoba melakukan suatu perbuatan baik kepadaku, aku akan berusaha membuat pria itu sakit hati. Dan jika pria itu berhasil ku sakiti, aku merasakan suatu kepuasan. Entah kepuasan itu berasal dari mana, hanya saja aku merasa senang.

Namaku Cornelia Pattiasina. Sebelumnya, aku mau menceritakan mengapa aku begitu membenci para pria. Hal ini bermula dari kebencianku pada papa. Aku trauma dengan cara papa memperlakukan mama. Dia bisa berbuat baik kepada orang lain, tapi tidak bisa berbuat baik kepada mama. Ketika papa marah, dia menjadi orang yang sangat berbeda. Orang yang tidak pernah kami kenal.

Konflik demi konflik terjadi, hingga suatu hari papa telphone dan menanyakan pada mama, apakah surat yang dia kirim sudah sampai. Mama menjawab, "Belum… tidak ada surat yang datang.."

Akhirnya mama bertanya padaku, apakah aku menerima surat dari papa. Aku tidak bisa bohong, aku hanya menangis dan bilang, "Aku sudah buang.. aku sudah buang ke tempat sampah. Mama ngga perlu lihat…"

Yang dikirimkan papa adalah sebuah surat cerai, dan sewaktu aku menerima serta membacanya, aku langsung merobek-robek surat itu dan membuangnya ke tempat sampah. Hal tersebut membuat aku semakin kecewa dan sakit hati.

Tapi sepertinya Tuhan tidak ingin aku tinggal berlama-lama dalam kekecewaan dan sakit hati. Dia menegur aku dengan sangat keras. Suatu hari dokter mendiagnosis adanya kista di kedua ovariumku. Hal ini mengharuskan kedua kedua ovariumku diangkat.

Aku merasa sangat takut… Ketakutan terbesarku adalah aku ngga bisa punya anak, padahal aku masih berumur sembilan belas tahun. Ada pertanyaan dalam hatiku, "Selama aku hidup, aku belum pernah merasakan kebahagian sejati, tapi kenapa Tuhan sudah mau ambil kedua ovarium aku?"

Selama masa persiapan operasi, aku merasa takut, gelisah dan gundah gulana. Aku mencoba mencari jawaban atas segala kegelisahanku kepada Tuhan. Hingga saat aku membaca sebuah makalah yang menuliskan tentang Yesus menyembuhkan wanita yang mengalami pendarahan selama 12 tahun.

Aku membuat catatan kecil disamping tulisan itu, "menjamah jubahnya." Di saat itu aku menyadari bahwa aku cukup percaya untuk mengalami kesembuhan. Aku merasa bahwa firman itu berbicara pada saat dan waktu yang tepat, sehingga sangat menguatkan aku.

Ternyata, melalui penyakit inilah Tuhan bekerja untuk memulihkan hubunganku dengan papa. Papa datang dan bilang sama aku, "Papa minta maaf, karena papa tahu kalau papa melakukan banyak kesalahan sama kamu nak…"

Saat itu aku menangis dan aku pun minta maaf sama papa, "Aku juga banyak salah… aku juga banyak kecewa… Aku banyak nyimpen sakit hati sama papa…" Hari itu kami saling minta maaf dan berpelukan.

Aku juga bilang sama papa, "Aku mau sembuh pah.. aku mau sembuh.." Saat itulah mulai ada pemulihan hubunganku dengan papa.

Kemudian aku bilang sama papa kalau aku mau pulang aja. Aku percaya kalau aku tidak perlu operasi. Aku akan sembuh tanpa operasi. Dan papa dan mamaku bilang, "Kalau iman kamu memang begitu, kami akan dukung." Dan akhirnya aku pulang ke rumah tanpa melakukan operasi.

Iman dan pengharapanku pada Tuhan tidak pernah sia-sia. Desember 2007 bukti bahwa Tuhan masih melakukan mukjizat itu aku lihat. Kista aku sudah hilang. Dan hingga saat ini aku merasa baik, sehat dan tidak ada gangguan lagi. Keadaan ovarium aku sempurna. Itulah hadiah

Dan setelah aku sembuh, aku mengingat hidup aku itu adalah anugrah. Suatu anugrah Tuhan yang sangat besar yang Dia berikan buat aku. Aku bisa membuka lembaran baru kehidupan bersama orang-orang yang aku kasihi. Bersama semua orang yang sudah berubah. Bersama orang-orang yang benar-benar baru buat aku.

Aku berterima kasih sama Tuhan, karena melalui sakit yang aku alami, hubungan aku sama papa bisa dipulihkan. Hubungan mama dan papa juga dipulihkan. Bahkan yang membuat aku senang adalah mereka berdua mulai antusias lagi. Mereka banyak meluangkan waktu bersama. Mereka saat ini kursus bahasa Inggris bersama. Kadang-kadang mereka berkata, "Aduh…sudah tua kok masih harus belajar.." Tapi saya rasa mereka punya semangat yang baru untuk melanjutkan kehidupan mereka.

Lia yang dulu adalah wanita yang tidak bisa percaya sama orang, pribadi yang penuh dengan sakit hati, kekecewaan, dan kebencian. Lia yang penuh tidak kepercayaan pada kasih Tuhan Yesus, tidak percaya pada kasih orang tua, dan kasih dari sesama. Namun melalui sakit yang aku alami, aku bertemu dengan Tuhan secara pribadi. Sekarang aku menjadi Lia yang baru. Lia yang sekarang sadar arti hidup. Lia yang sekarang bisa percaya pada orang lain. Lia yang sekarang percaya akan adanya kasih dan cinta. (Kisah ini ditayangkan 25 Februari 2009 dalam acara Solusi Life di O’Channel)

Sumber Kesaksian:

Cornelia Pattiasina

Sumber : jawaban.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: