ALKITAB PENGKHOTBAH

7 Feb

Penulis          : Salomo
Tema             : Kesia-Siaan Hidup yang Terlepas dari Allah
Tanggal Penulisan: + 935 SM

Latar Belakang
~~~~~~~~~~~~~~
Judul kitab ini di dalam PL Ibrani adalah _qoheleth_ (dari kata Ibr. _qahal_ — berkumpul); secara harfiah artinya “orang yang mengadakan dan berbicara kepada suatu perkumpulan.” Kata ini dipakai 7 kali dalam kitab ini (Pengkh 1:1,2,12; Pengkh 7:27; Pengkh 12:8-10) dan diterjemahkan sebagai “Pengkhotbah”. Di dalam Septuaginta padanan katanya ialah _ekklesiastes_ yang menghasilkan judul _Ecclesiastes_ dalam Alkitab Inggris. Karena itu seluruh kitab ini merupakan serangkaian ajaran oleh seorang pengkhotbah yang terkenal.

Pada umumnya dipercayai bahwa penulisnya adalah Salomo, sekalipun namanya tidak muncul di dalam kitab ini, seperti dalam kitab Amsal (mis. Ams 1:1; Ams 10:1; Ams 25:1) dan Kidung Agung (bd. Kid 1:1). Akan tetapi, beberapa bagian mengesankan Salomo selaku penulis.

(1) Penulis menyebutkan dirinya sebagai anak Daud, raja di Yerusalem (Pengkh 1:1,12).

(2) Ia menyebut dirinya pemimpin yang paling bijaksana dari umat Allah (Pengkh 1:16) dan penggubah banyak amsal (Pengkh 12:9).

(3) Kerajaannya dikenal karena kekayaan dan kemuliaan yang berlimpah-limpah (Pengkh 2:4-9).

Semua unsur ini cocok dengan gambaran alkitabiah mengenai Raja Salomo (bd. 1Raj 2:9; 1Raj 3:12; 1Raj 4:29-34; 1Raj 5:12; 1Raj 10:1-8). Lagi pula, kita tahu bahwa Salomo kadang-kadang mengumpulkan sejumlah orang Israel dan berceramah kepada mereka (mis. 1Raj 8:1). Tradisi Yahudi menyebut Salomo sebagai penulis kitab ini. Pada pihak lain, kenyataan bahwa namanya tidak tercantum dalam kitab ini (seperti halnya dalam kedua kitab lainnya) bisa memberi kesan bahwa orang lain terlibat dalam menyusun kitab ini. Sebaiknya kita memandang kitab ini sebagai ditulis oleh Salomo, tetapi mungkin dikumpulkan dan disusun dalam bentuknya yang sekarang oleh seorang lain, serupa dengan cara beberapa bagian kitab Amsal disusun (bd. Ams 25:1).

Secara liturgis kitab ini menjadi salah satu di antara lima gulungan dari bagian ketiga Alkitab Ibrani, yaitu _Hagiographa_ (“Tulisan-Tulisan Kudus”), yang masing-masing dibacakan di hadapan umum pada salah satu hari raya Yahudi. Pengkhotbah dibacakan pada Hari Raya Pondok Daun.
Garis Besar
~~~~~~~~~~~
Judul
(Pengkh 1:1)
I.  Pendahuluan: Kesia-Siaan Hidup Pada Umumnya
(Pengkh 1:2-11)
II. Kesia-Siaan Hidup Mementingkan Diri yang Dilukiskan
dari Pengalaman Pribadi
(Pengkh 1:12-2:26)
A. Kesia-Siaan Hikmat dan Filsafat Manusia
(Pengkh 1:12-18)
B. Kehampaan Kesenangan dan Kekayaan
(Pengkh 2:1-11)
C. Kesia-Siaan Prestasi Besar
(Pengkh 2:12-17)
D. Ketidakadilan Kerja Keras
(Pengkh 2:18-23)
E. Kesimpulan: Kenikmatan Hanya Berasal dari Allah
(Pengkh 2:24-26)
III.Berbagai Pengamatan Tentang Pengalaman Hidup
(Pengkh 3:1-11:6)
A. Aneka Perspektif Terhadap Tatanan Ciptaan
(Pengkh 3:1-22)
1. Suatu Waktu Diciptakan untuk Segala Sesuatu
(Pengkh 3:1-8)
2. Keindahan Penciptaan
(Pengkh 3:9-14)
3. Allah adalah Hakim Segala Sesuatu
(Pengkh 3:15-22)
B. Berbagai Pengalaman Hidup yang Sia-Sia
(Pengkh 4:1-16)
1. Mengalami Penindasan
(Pengkh 4:1-3)
2. Persaingan dalam Bekerja
(Pengkh 4:4-6)
3. Tidak Mempunyai Teman
(Pengkh 4:7-12)
4. Lalai Menerima Nasihat
(Pengkh 4:13-16)
C. Aneka Peringatan Kepada Pembaca
(Pengkh 4:17-6:12)
1. Mengenai Menghampiri Allah
(Pengkh 4:17-5:6)
2. Mengenai Pengumpulan Kekayaan
(Pengkh 5:7-19)
3. Mengenai Hidup dan Mati
(Pengkh 6:1-12)
D. Serbaneka Amsal-Amsal Hikmat
(Pengkh 7:1-8:1)
E. Masalah-Masalah Keadilan
(Pengkh 8:2-9:12)
1. Ketaatan Kepada Raja
(Pengkh 8:2-8)
2. Kejahatan dan Hukumannya
(Pengkh 8:9-13)
3. Masalah Keadilan Sejati
(Pengkh 8:14-17)
4. Keadilan Akhir bagi Semua Orang
(Pengkh 9:1-6)
5. Kemanjuran Iman
(Pengkh 9:7-12)
F. Serbaneka Amsal Lagi Tentang Hikmat
(Pengkh 9:13-11:6)
IV. Nasihat-Nasihat Penutup
(Pengkh 11:7-12:14)
A. Bersukacitalah pada Masa Mudamu
(Pengkh 11:7-10)
B. Ingatlah Allah pada Masa Mudamu
(Pengkh 12:1-8)
C. Berpautlah pada Satu Kitab
(Pengkh 12:9-12)
D. Takutlah Akan Allah dan Berpeganglah pada Perintah-Perintah-Nya
(Pengkh 12:13-14)
Tujuan
~~~~~~
Menurut tradisi Yahudi, Salomo menulis Kidung Agung ketika masih berusia muda, Amsal pada usia setengah tua dan kitab Pengkhotbah pada tahun-tahun akhir hidupnya. Pengaruh yang bertumpuk dari kemerosotan rohani, penyembahan berhala, dan hidup memuaskan-dirinya pada akhirnya membuat Salomo kecewa dengan kesenangan dan materialisme sebagai cara untuk mencapai kebahagiaan. Kitab Pengkhotbah mencatat renungan-renungan sinisnya tentang kesia-siaan dan kehampaan usaha menemukan kebahagiaan hidup terlepas dari Allah dan Firman-Nya. Ia telah mengalami kekayaan, kuasa, kehormatan, ketenaran, dan kesenangan sensual — semua secara melimpah — namun semua itu akhirnya merupakan kehampaan dan kekecewaannya saja, “Kesia-siaan belaka! Kesia-siaan belaka! … segala sesuatu adalah sia-sia” (Pengkh 1:2). Tujuan utamanya dalam menulis Pengkhotbah mungkin adalah menyampaikan semua penyesalan dan kesaksiannya kepada orang lain sebelum ia wafat, khususnya kepada kaum muda, supaya mereka tidak melakukan kesalahan yang sama seperti dirinya. Ia membuktikan untuk selama-lamanya kesia-siaan melandaskan nilai-nilai kehidupan seorang pada harta benda duniawi dan ambisi pribadi. Sekalipun orang muda harus menikmati masa muda mereka (Pengkh 11:9-10), adalah lebih penting untuk mengabdikan diri kepada Sang Pencipta (Pengkh 12:1) dan membulatkan tekad untuk takut akan Allah dan berpegang pada perintah-perintah-Nya (Pengkh 12:13-14); itulah satu-satunya jalan untuk menemukan makna hidup ini.

Survai
~~~~~~
Sulit untuk memberikan analisis yang teratur dari isi kitab Pengkhotbah; tidak ada garis besar yang dengan mudah merangkum semua ayat dan alinea. Dalam beberapa hal, Pengkhotbah mirip dengan petikan-petikan dari catatan harian pribadi seorang ahli filsafat selama tahun-tahun terakhir yang penuh kekecewaan dari hidupnya. Ia memulai kitab ini dengan menyatakan tema pokoknya bahwa seluruh kehidupan ini tak berarti dan serupa dengan menjaring angin (Pengkh 1:1-11). Bagian utama yang pertama dari kitab ini khususnya berhubungan dengan riwayat hidupnya; Salomo melukiskan berbagai segi hidupnya yang sangat mementingkan diri dalam segenap kemakmuran, kesenangan, dan keberhasilan duniawi (Pengkh 1:12-2:23). Usaha memperoleh kebahagiaan melalui cara-cara ini baginya telah berakhir dengan ketidakpuasan dan kehampaan. Bagian terbesar kitab ini berisi rangkaian pikiran acak-acakan yang menggarisbawahi kesia-siaan dan kebingungan dari kehidupan yang tidak berpusat pada Allah. Hidup “di bawah matahari” (frasa yang terdapat 29 kali di dalam kitab ini) adalah hidup yang dilihat dari mata orang yang tidak tertebus dan bercirikan ketidakadilan, ketidakpastian, dan perubahan-perubahan tidak terduga dari nasib, serta pelanggaran-pelanggaran keadilan. Salomo hanya dapat menemui makna pokok hidup ini ketika memandang “di atas matahari” kepada Allah. Mencari kesenangan adalah dangkal dan bodoh; masa muda seseorang terlalu singkat dan kehidupan ini terlalu cepat berlalu untuk dihabiskan secara serampangan. Hidup yang tak menentu dan pastinya kematian menyebabkan Salomo bersikap sinis terhadap maksud dan jalan Allah. Kitab ini ditutup dengan menasihati kaum muda untuk mengingat Allah ketika masih muda, supaya mereka tidak menjadi tua dengan penyesalan pahit dan tugas menyedihkan untuk mempertanggungjawabkan hidup yang disia-siakan kepada Allah.
Ciri-ciri Khas
~~~~~~~~~~~~~~~
Lima ciri utama menandai kitab ini.

(1) Kitab ini sifatnya sangat pribadi, penulis sering kali memakai kata ganti “aku” sepanjang sepuluh pasal pertama.

(2) Melalui sikap pesimisme penulis, kitab ini menyatakan bahwa hidup yang terpisah dari Allah itu tidak menentu dan penuh dengan kesia-siaan (istilah “sia-sia” terdapat 37 kali dalam kitab ini). Dengan sinis Salomo mengamati pelbagai paradoks dan kebingungan dalam hidup ini (lih. mis. Pengkh 2:23 dan Pengkh 2:24; Pengkh 8:12 dan Pengkh 8:13; Pengkh 7:3 dan Pengkh 8:15).

(3) Inti nasihat Salomo di dalam kitab ini terdapat di dalam dua ayat terakhir, “Takutlah akan Allah dan berpeganglah pada perintah-perintah-Nya, karena ini adalah kewajiban setiap orang” (Pengkh 12:13-14).

(4) Gaya penulisan kitab ini terputus-putus; kosakata dan susunan kalimatnya termasuk bahasa Ibrani yang paling sulit dalam PL dan tidak mudah untuk menggolongkannya dalam masa sastra Ibrani tertentu.

(5) Kitab ini berisi alegori yang paling indah dalam Alkitab mengenai seorang yang makin tua (Pengkh 12:2-7).

Penggenapan Dalam Perjanjian Baru
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Sekalipun hanya satu bagian Pengkhotbah yang kelihatan dikutip dalam PB (Pengkh 7:20 dalam Rom 3:10, mengenai universalitas dosa), namun tampaknya ada beberapa rujukan yang tak langsung: Pengkh 3:17; Pengkh 11:9; Pengkh 12:14, dalam Mat 16:27; Rom 2:6-8; 2Kor 5:10; 2Tes 1:6-7; dan Pengkh 5:14 dalam 1Tim 6:7.  Kesimpulan penulis tentang kesia-siaan mencari harta duniawi diulang oleh Yesus ketika Ia mengatakan

(1) bahwa kita hendaknya jangan mengumpulkan harta di dunia ini (Mat 6:19-21,24), dan

(2) bahwa tidak ada gunanya seorang memperoleh seluruh dunia tetapi kehilangan nyawanya (Mat 16:26).

Tema kitab ini, yaitu hidup tanpa Allah adalah sia-sia dan tanpa arti, mempersiapkan panggung untuk berita kasih karunia PB: sukacita, keselamatan, dan hidup kekal hanya diterima sebagai karunia dari Allah (bd. Yoh 10:10; Rom 6:23).

Dengan berbagai cara, kitab ini mempersiapkan jalan untuk penyataan PB dengan cara terbalik. Acuan yang sering kepada kesia-siaan hidup dan kepastian kematian mempersiapkan pembacanya untuk jawaban Allah terhadap kematian dan penghukuman yaitu, hidup kekal melalui Yesus Kristus.  Karena orang PL yang paling bijaksana tidak sanggup menemukan jawaban yang memuaskan bagi aneka persoalan hidup melalui pencarian kesenangan yang mementingkan diri, kekayaan, dan pengumpulan pengetahuan, kita harus mencari jawaban tersebut di dalam Dia yang oleh PB disebut “lebih daripada Salomo” (Mat 12:42), yaitu Yesus Kristus sebab di dalam-Nya “tersembunyi segala harta hikmat dan pengetahuan” (Kol 2:3).

One Response to “ALKITAB PENGKHOTBAH”

  1. Sonny 27/11/2013 at 4:13 PM #

    Uraian tentang kitab pengkhotbah sangat bagus. Saya merasa benar2 dapat intisarinya. Thank’s.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: