Mukjizat Itu Nyata, Aku Lumpuh Bisa Berjalan Lagi

6 Jul

Fri, 27 May 2011

view :2313

Sebagai seorang bisnisman, Ahin adalah pribadi yang sangat aktif dan cekatan, bahkan ia sering bepergian ke luar kota didampingi oleh istrinya, Aing. Demikian juga pagi itu, di bulan Desember 2002, Ahin sedang menikmati sarapannya sambil menunggu istrinya berkemas untuk perjalanan mereka ke luar kota untuk sebuah urusan bisnis.

“Pagi itu biasa-biasa, ngga ada masalah bahkan sehat sekali,” ungkap Ahin.

Akhirnya, Ahian beserta istri pergi ke tempat tujuan dengan menumpang sebuah bus antar kota. Namun tidak berapa lama duduk di bus, pinggang Ahin terasa sangat sakit.

“Waktu itu musim dingin ya, jadi saya kira pinggangnya kena dingin,” demikian duga Aing.

Tidak tahan dengan sakitnya, Ahin mencoba berdiri, namun sesuatu yang mengejutkan terjadi. Ahin merasakan kesakitan yang amat sangat, bahkan ia tidak mampu lagi berjalan atau berdiri. Apa yang sebenarnya terjadi?

Ahin pun akhirnya menjalani pemeriksaan medis, dan ketika hasil MRI keluar, dokter memberikan vonis yang sangat menyeramkan.

“Hasilnya, sudah ancur tulang bapak. Tulangnya keropos, itu sudah tidak bisa jalan. Kesenggol sedikit saja bisa patah,” demikian jelas dokter yang memeriksanya.

Berdasarkan pemeriksaan dokter, Ahin mengidap penyakit osteoporosis kronis, penyakit yang menyerang tulang punggungnya. Vonis akhirnya, Ahin akan lumpuh seumur hidup. Tapi Ahin tidak mau menyerah, ia menanyakan kemungkinan penanganan penyakitnya dengan operasi.

Namun sambil menggelengkan kepala, sang dokter menjawab, “Penyakit bapak sangat parah, kalau sukses kamu lumpuh, kalau ngga sukses kamu mati.”

Mengetahui vonis dokter ini, baik Ahin maupun istri dan anaknya sangat sedih.

“Istri saya nangis terus, saya bilang: Jangan nangis di depan muka saya, saya sangat sedih sekali.”

Aing, istrinya tidak bisa menerima kenyataan bahwa pria yang dicintainya itu akan menderita kelumpuhan di sisa hidupnya, padahal umurnya masih terbilang muda. Demi menyembuhkan suaminya, segala cara ia halalkan. Dukun, jimat, dan juga pengobatan tradisional di coba, namun semua tidak memberikan hasil apapun.

Ahin hanya bisa terbaring di ranjang, itu pun ia terus menerus merasakan sakit. Istri yang sangat mencintainya, dengan setia merawat dan menghibur Ahin. Tapi suasana di rumah itu telah berubah, tidak ada lagi gelak tawa dan sukacita, yang ada hanya jeritan kesakitan dari mulut Ahin.

“Teriakannya bukan teriakan biasa, satu gang di komplek itu sampai mendengar,” jelas Ferdian, anak laki-laki Ahin.

Rasa sakit, tidak berdaya dan lemah membuat Ahin merasa sangat marah dengan keadaannya. Bahkan ketika tahun demi tahun berganti, kondisi Ahin tidak juga membaik. Aing yang dengan setia terus merawatnya, pada titik tertentu juga merasakan kelelahan yang luar biasa.

“Bukan capai badan, capai hati,” ungkap Aing. “Kayanya kasihan banget. Kadang-kadang saya merasa terlalu sedih lihat hidup dia.”

Kepedihan Aing semakin dalam saat suaminya putus asa dan berkata, “Lebih baik, papa mati aja mah..” Keduanya menyadari, harta tidak bisa memberikan kebahagiaan dan hanyalah kesia-siaan ketika tidak bisa menikmati dan dirundung sakit penyakit seperti itu.

“Saya lebih baik seperti dulu hidup susah, tapi suami sehat. Daripada sekarang hidup lumayan, tapi suami sakit,” demikian ungkap Aing jujur.

Hampir tiga tahun berlalu, obat apapun tidak berdampak positif bagi kondisi Ahin. Suatu hari Ferdinan datang dengan membawa sebuah bulletin dan menunjukkannya kepada papa dan mamanya.

“Saya lihat di bulletin itu ada yang sakit, sembuh. Saya tanya sama istri saya, mau ngga kita percaya sama Tuhan? Siapa tahu saya bisa sembuh. Istri saya menjawab, kalau bisa sembuh, apapun saya akan percaya,” demikian jelas Ahin.

Bagi Aing, keputusan itu sudah bulat, itu adalah jalan terakhir yang ia miliki. Akhirnya keputusan bulan di ambil, seluruh keluarga memutuskan untuk percaya dan berserah kepada Tuhan yang mereka sebut dalam nama Tuhan Yesus Kristus. Cara-cara lama disingkirkan, kali ini mereka belajar untuk memohon pertolongan pada Tuhan.

“Saya bilang, suatu hari pasti di jawab ini. Pasti sembuh!” demikian ungkap Aing yakin.

Suatu hari, sebuah ibadah besar tentang kuasa Tuhan diadakan di Ancol. Sebelum mereka berangkat, seluruh keluarga bergandeng tangan berdoa agar mukjizat Tuhan dinyatakan bagi Ahin.

“Sekitar setengah empat, saya pegangan tangan dengan keluarga saya berdoa, agar dapat Tuhan punya mukjizat,” jelas Ahin.

Usai berdoa, Ahin dibawa dengan sebuah tandu masuk ke dalam mobil dan dibawa ke Ancol. Dengan terbaring ia mengikuti ibadah itu didampingi seluruh keluarganya dengan satu harapan: mukjizat kesembuhan. Disana, ia dihampiri seorang hamba Tuhan.

“Pak Ahin, bapak percaya kalau Tuhan bisa sembuhkan pak Ahin?” tanya hamba Tuhan tersebut.

“Saya hidup untuk Tuhan, mati untuk Tuhan. Semuanya sudah saya serahkan,” demian jawab Ahin. “Begitu saya katakan seperti itu, belakang saya seperti terkena strom. Akhinya saya menangis, terus menangis sampai lama. Begitu selesai, saya miring ke kiri ngga sakit, miring ke kanan ngga sakit. Saya bilang, bisa turun ngga ranjangnya? Saya mau bangun.”

Mereka yang ada di sekitar Ahin terus berdoa ketika Ahin pelan-pelan dibantu bangun dari tandu tempat ia terbaring.

“Langsung saya bangun,” ungkap Ahin.

Seluruh keluarga kaget bahkan merasa tidak percaya pada apa yang terjadi. Mereka langsung menangis dan memuliakan Tuhan atas mukjizat yang terjadi di depan mata kepala mereka itu.

“Saya benar-benar bangga saat itu,” tutur Ferdian, “Inilah papaku, inilah yang membuat mengenal Tuhan itu tidak sia-sia.”

Hari-hari penuh penderitaan dan tangisan berakhir sudah, kini semua itu berganti dengan ucapan syukur dan kesaksian bagaimana tangan Tuhan berkarya dalam kehidupan keluarga Ahin.

“Saya mengucap syukur kepada Tuhan sudah sembuh. Saya sampai selama-lamanya tidak bisa lupa Tuhan,” ungkap Ahin dengan penuh sukacita. (Kisah ini ditayangkan 26 Mei 2011 dalam acara Solusi Life di O’Channel).

Sumber Kesaksian:

Ahin

Posted with WordPress for BlackBerry.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: